Hyperlocal ala Makassar

APAKAH surat kabar akan punah?

Di Amerika, 14 tahun lalu, Profesor Philip Meyer (88), menjawab; “di kuartal pertama 2043, akan jadi masa akhir pembaca yang kelelahan membuang edisi terakhir surat kabar yang lusuh.”

Kutipan jawaban itu ditulis guru besar jurnalisme North Caroline University ini dalam bukunya, The Vanishing Newspaper; Saving Journalism in the Information Age (NCU; 2005).

Seperti kami, Meyer meyakini yang punah bukanlah jurnalisme melainkan bisnis menjual kertas koran, dan hilangnya outlet distribusinya.

Toh, bukankah sejak dahulu jurnalisme adalah “bisnis” rasa ingin tahu dan pengaruh.

Menurutnya, sepanjang tetap mengabdi ke khalayak, mengontrol otoritas publik serta menyajikan hajat komunitas relevan, jurnalisme tetap dibutuhkan.

Jurnalisme akan bertahan jika kukuh menyajikan fakta dan data. Bukan sekadar ‘kata-kata’ apalagi komentar.

Kala tesis penulis buku ‘Jurnalisme Presisi” ini dilontarkan, portal berita online belumlah sesemarak era ini.

Facebook, aplikasi sosial media terbesar dunia, masih ada di laptop Mark Zuckerberg, dan diunduh sejawat kuliahnya di Harvard University.

Kevin York Systrom (35), penemu Instagram, belum lagi kuliah di Stanford University di California. Insta adalah Microblog berbasis gambar dan video terpopuler.

Kini, hingga Januari 2019, dua platform sosial media itu sudah diunduh lebih dari 3,2 miliar pengguna. Facebook (2,27 miliar) dan Instagram (1,02 miliar).

Angka ini sudah lebih dari ½ total penduduk dunia, tahun 2017 mencapai; 7,53 miliar jiwa.

Padahal, pembaca surat kabar dalam tempo 4 dekade —sejak puncaknya dekade 1970-an hingga 1990-an–, hanya bisa menjangkau kurang lebih 350 juta pembaca dari lima benua.

Pemamah informasi dari digital media juga sudah lebih dari separuh total penduduk dunia.

Dalam satu dekade, peningkatannya hampir 200% dalam setahun. Bukan deret ukur, melainkan eksponansil

Data dari global digital population yang dilansir Statista, Januari 2019, pengguna internet dunia sudah meloncat mencapai 4,4 miliar. So spike

Dan 3,5 miliar diantaranya menggunakan smartphone untuk sosial media, atau 80,1 %.

Loncatan audiens ini oleh pengamat diistilahkan hyperloop;

Informasi Akbar (25), warga Desa Salubiro, Kecamatan Korossa, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, ditelan ular pyton di kebun sawit ayahnya, hanya butuh waktu kurang dari 2 jam untuk viral ke Amerika.

Jurnalis Tribun Timur, Nurhadi, yang meliput kejadian itu, 26 Maret 2017, sudah dihubungi koresponden BBC London, untuk meminta izin memuat gambar amatir dari anak kepala desa yang berjarak 520 km sebelah utara kantor Newsroom Tribun Timur di Makassar itu.

Hingga, Minggu (10/2/2019) malam, video berjudul ‘Akbar Tewas Ditelan Ular Pyton’ itu sudah ditonton 5,2 juta orang, sejak diunduh 28 Maret 2017.

“Banyak sudah berita ular makan orang, tapi belum menemukan video mayat dikeluarkan dari perut pyton amat jarang,” kata produser Channel NatGo, Amerika, saat meminta akses copyright untuk mengutip klip video itu ke newsroom Tribun Timur via WhatsApp Video Call, kala itu.

Dengan akses internet broadband dan pengguna media sosial aktif, informasi kini begitu amat cepat (hyper).

Kecepatan distribusi itu amat terukur dan terbuka untuk dihitung, itulah yang disitilahkan go viral.

Sekat geografis yang jadi kendala utama sirkulasi suratkabar, berubah jadi beyond geografis, menembus batas negara dan benua.

Peristiwa di pedalaman barat pulau Sulawesi itu, tak cukup 48 jam sudah tayang di TV channel di Amerika dan Eropa, dan jadi artikel Unique News di koran-koran pedalaman Philadelpia, Amerika hingga kota wisata Pattaya, di Thailand.

Jujur, Tribun awalnya menemukan video itu di sebuah akun Facebook warga Mamuju, ibu kota Sulbar, sekitar 482 km dari Makassar.

Kurang dari 12 jam, wartawan Tribun, sudah di Desa Salubiro, sekitar 92 km dari Mamuju. Setelah mendapat ‘hak tayang’ dari pemilik video, kami mengubah informasi itu menjadi berita.

Kami membuat grafis lokasi kejadian, menyunting beritanya, dan mencetaknya di surat kabar. Keesokan harinya.

Secara simultan, beritanya juga dipublish di http://www.tribun-timur.com, diunduh di akun resmi Facebook, Twitter, Instagram, Google+ dan akun YouTube kami yang semua sudah berstatus centang biru; “verified”

Jika hanya viral di media sosial; tanpa identitas demografi, tanpa kronologis, jalan cerita, dan motif, informasi itu mungkin hanya akan jadi sampah digital alias HOAX.

We Go There

Jurnalis Tribun terjun ke lokasi. We go there. Kami mewawancara orangtua, kerabat, dan kepala kampung almarhum. Selain teks, kami memotret dan mengabadikan lokasi ular memamah Akbar dengan kamera video smartphone.

Di saat bersamaan, newsroom kami melengkapi 5W+1H (what, when, where, who, why dan how) dari insiden langka itu.

Lalu mempublikasikannya. Itulah yang kami namakan NEWS. Berita.

Kami mengubah row material ‘HOAX” dari pedalaman Sulawesi menjadi “fakta”. Itulah yang oleh pengamat digital information age didefenisikan sebagai “hyperlocal,”

Dan Tribun Timur, sudah memulai itu..

Terus terang, seperti manusia dan mahluk hidup lain, surat kabar juga tidak kekal.

Kami sadar pasti punah. Dalam teori evolusi; bukan siapa yang terkuat, tapi siapa yang cepat beradaptasi, begitu kata Charles Darwin.

Dengan pembaca visi Kami kini dalam kesadaran dan semangat, Who’s The Last Standing Newspaper?” siapa surat kabar yang paling terakhir terbit.

Dengan pengunjung rerata harian mencapai 2,1 juta dan awal Januari 2019 lalu pernah mencapai 3,2 juta visitors per hari, kami sadar, proses beradaptasi itu sudah kami mulai.

Toh, bukankah kematian atau kepunahan yang “indah” adalah yang kami persiapkan.

Dan kini, bersama pembaca, narasumber, dan relasi; kami siap.

Terima kasih.

(@nurthamzilthahir)

Advertisements

Aksa Mahmud dan Gagasan Spontan Lomba Barzanji dan Talqin Bahasa Bugis Antar-Pesantren

FOTO: Tribun Muhammad Abdiwan

.

GAGASAN original kerap datang di moment sempit, spontan, dan tepat.

Nah, itulah yang ditunjukkan founder sekaligus owner Bosowa Corporation, HM Aksa Mahmud (74 tahun), Selasa (19/2/2019) malam.

Gagasan spontan Wakil Ketua MPR-RI (2004-2009) ini adalah upaya memelihara tradisi tutur bahasa ibunya, Bugis menjadi salah satu alat syiar Islam.

Diapun menggagas lomba baca terjemahan barzanji dan lomba talqiin dalam bahasa Bugis.

Gagasan ini mendadak muncul saat Aksa justru dalam keadaan berduka.

Menjadi shohibul bait (si empunya hajat) di acara takziyah malam pertama atas meninggalnya H Hasanuddin Hasma (1959-2019), Selasa (19/2/2019) di Kompleks Hertasning Blok B9, Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Rappocini, Makassar.

Hasanuddin Hasma adalah keponakan Aksa sekaligus Vice Presiden Bosowa Group (1998-2006).

Hasanuddin Hasma juga pernah menjabat Pimpinan Umum (PU) Pt Bosowa Media Grafika, penerbit surat kabar harian Tribun Timur (2006-2009).

Hasanuddin Hasma meninggal dunia, Senin (18/2/2018) lalu, dan dimakamkan di kompleks pekuburan keluarga di Kampung Lapasu, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, sekitar 121 km dari Makassar, ibu kota Provinsi Sulsel.

Nah usai prosesi pemaksman, Aksa pun salat Magrib berjamaah di masjid kampung kelahirannya. Di masjid itulah dia mendengarkan takmiliyah atau bacaan zikir yang diterjemahkan dalam bahasa Bugis.

“Saya langsung ingat dan rindu masa kecil, saat mengaji di Mangkoso, sebelum sekolah SMP di Parepare, ” ujar jebolan fakultas teknik Unhas itu, kepada Tribun.

Sekembali ke Makassar, lantunan zikir dalam bahasa Bugis itu, terus melintas di ingatannya.

Aksa pun mengambil kesimpulan tradisi baik syiar Islam itu harus lestari.

Namun caranya bagaimana?

Nah, gagasan spontan itu muncul saat menjamu ustad pembawa ceramah Takziyah di kediaman kemenaknnya.

Kala duduk berdampingan dengan Haji Muhammad Agus Lc, MThi (34), Aksa meminta sang ustad berceramah dalam bahasa Bugis.

“Ini tak biasanya saya ceramah di Makassar pakai bahasa Bugis, tapi karena permintaan to malebbitta Haji Aksa Mahmud, maka saya akan ceramah pakai Bahasa Bugis, dan campur bahasa Indonesia sedikit,” kata sang Ustad, membuka ceramah takziyah soal Mati dan Kematian.

Dari pantauan Tribun, sekitar 45 menit ceramah, pembina Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Barru itu, hampir 80% menggunakan bahasa Bugis.

VIDEO; Keunikan dan falsafah Bahasa Bugis

Aksa dan sekitar 200-an kerabat, sahabat dan karyawan Bosowa Group, pun menyimah materi ceramah kandidat doktor ilmu tafsir hadits UIN Alauddin Makassar ini.

Usai ceramah, Aksa juga meminta orang dekatnya di manajemen induk Bosowa Corporation untuk menggagas Lomba terjemahan Barazanji dan talqiin berbahasa Bugis antar santri Pondok Pesantren se-Sulsel.

“Kita bikin acaranya dalam rangka ulangtahun ke-46 Bosowa Corporation, awal Maret lah,” kata Aksa Mahmud.

Dia berharao, lomba ini diikuti santri tsanawiyah dan aliyah dari pondok pesantren di kabupaten yang masih aktif menggunakan bahasa Bugis; mulai dari kota Makassar, Pangkep, Maros, Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Wajo, Bone, Sinjai dan Bulukumba.

Aksa mulai khawatir, jika tak ada upaya sistemik, massif dan institusional maka bahasa lokal dengan penutur terbesar di timur Indonesia ini akan punah.

“kalau bukan kita siapa lagi,” kata perintis kelompok usaha dengan singkatan, Bone-Soppeng-Wajo itu.

Haji Syarief Dg Nai; Penyiar Tertua Sekaligus Pelestari Bahasa Makassar

EMPAT puluh tujuh tahun sudah Haji Syarief “Gamajaya’ Dg Nai jadi penyiar radio di Makassar.

Selain penyiar interaktif tertua berlogat dan bahasa Makassar, Syarief juga saksi hidup “timeline’ model interaksi penyiar dengan pendengar di Nusantara dalam setengah abad.

Mulai dari interaksi surat dan telegram pos (era 1970-an), lalu surat kartu pembaca (era 1980-an), telepon (era 1990-an), SMS dan email (era 2000-an) dan era medsos serta live streming radio (2010-an) di Indoensia.

“sekarang ini biar pendengar dari Jayapura, Balikpapan atau Tanjungpriok bisami kirim-kirim lagu ke saudara atau temannya dan dengar langsung di live streaming dan video call mi juga,” katanya.

TONTON Video Dg Nai Mencandai Istri

Kini, Dg Nai tak menyiar belaka. Di usia ke-71 tahun, dia ingin jadi pelestari Bahasa tutur dan budaya Makassar.

Saban hari, sekitar 120 menit, dia aktif menggunakan sekitar 35 hingga 50 kata, frasa atau lema dalam bahasa Makassar, untuk menjadi konten siaran radio.

“Kalau bahasa Makassar semua juga nanti pendengar bosan, jadi diselipkan sedikit- sedikit saja. Lalu diterjemahkan. Yang penting, pendengar tak lupa, anak-anak muda mau tahu, dan penduduk kota ini ingat kalau bahasa Makassar itu indah, mulia dan layak dipertahankan,” kata Syarief Dg Nai.

Meski hanya jebolan SMA swasta kelas sore di gedung SMA 1 Makassar, Dg Nai ternyata kukuh bahwa bahasa tutur adalah benteng terakhir sebuah identitas budaya.

“Kalau tidak adami yang mau pakaiki (memelihara) di rumah dan bicara sama tetangga, berarti hilang mi budaya Makassar,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Saat Makassar masih bernama Ujungpandang, selama 7 tahun, Dg Nai menyiar di Radio Gandaria AM 82,2 MHz di Jl Gunung Nona, Makassar.

Di radio khas anak Makassar itu, Dg Nai membawakan program siaran “Panyambungi”.

“Itu artinya rumah petak yang dindingnya dilepas saat ada acara.” ujar Dg Nai ceritakan debut menyiarnya di Gandaria antara tahun 1973 hingga 1980. “

Ide acara Panyambungi dari Haji Abdul Rahman, mendiang bos Gandaria.

Di stasiun radio yang beralamat di Jl Gunung Nona itu, Dg Nai memakai nama udara; Baso Gambang.

Partner siarnya, almarhum Sahabuddin Dg Tuju berjuluk Baso Poteng. “Ada juga Baco Kacamata.”

“Ubi kayu itu, tak bisa jadi poteng (tape) kalau tidak pakai Gambang (ragi). berasa’ pulu (ketan) juga tak bisa jadi tape kalu tidak digambangi (diragi), kalau sudah ada ragi tapi tidak dimakan juga jadi ballo ase ji tuak kacci (arak khas Makassar),” ujar Dg Nai seraya tertawa lepas.

Dan hari-hari ini, Dg Nai memasuki tahun ke-39 jadi annonser (announcer/penyiar) di Radio Gamasi 105,9 FM.

“Kalau PNS ka ini, sudah lewat 15 tahun pensiunku, Tapi Alhamdulillah Mas No (Haji Abdul “Soekarno” Hamid, pemilik Gamasi) masih suka dengar suaraku,” katanya kepada Tribun, Sabtu (16/2/2019) malam.

Tribun menemui Dg Nai di rumahnya, sebuah gang amat sempit sekitar Pekuburan Arab, Kelurahan Paranglayang, Kecamatan Bontoala, utara Makassar.

Lorong rumahnya pas memuat satu sepeda motor. Rumah di lorong itu padat, ketat berdempet dan khas urban pinggiran kota.

Gang itu pengap dan gelap. Lebih terang di malam hari karena sinar neon. Dg Nai lahir, besar, dan membesarkan anak cucunya di gang itu.

Jika ingin mencarinya mudah. patokannya pekuburan Arab Bontoala, di timur jalan Bandang, lalu tanyakan nama Dg Nai, penyiar Radio Gamasi.

Dg Nai dikenal dan mengenal banyak tetangga. “waktu muda, fansku banyak sskali ke rumah.”

Kosntruksi rumahnya laiknya rumah susun semi permanen. Ruang tamu menyatu dengan kamar tidur, ruang keluarga, dan hanya dibatasi dinding triplek dengan dapur, pantry dan WC-kakus.

Rumahnya ada lantai atas. disinilah 2 anak plus menantu dan 3 cucunya bermukim.

“Hidup itu berkahnya ji, yang penting syukur,” ujar Dg Nai tentang kehidupan sosial, personal dan religiusitasnya.

Banyak sudah pengalaman yang tak terlupakan selama 4 dekade menyiar. Namun yang tak terlupakan dan amat emosional adalah di awal tahun 2004.

Kala itu, siang dia menyiar Baruga. Tiba-tiba sang pemilik Radio Gamasi, Haji Abdul Hamid menelponnya, dan memintanya mengurus paspor untuk naik haji.

“Tidak bisa kulupa, sepanjang menyiar itu keluar terus air mataku yang dingin. saya menangis bahagia terus sampai pulang dari Tanah Suci.

Dg Nai tak pernah menyangka, menyiar dan gaji pas-pasan untuk menyekolahkan anak hingga tamat SMA, bisa membuatnya menunaikan rukun Islam ke-lima.

Sejak usai berhaji, Dg Nai kian religius. Pesan dan nasihat berbobot agama selalu dia selipkan dari bilik siar.

“Saya tambah yakin, menjalani hidup tanpa banyak mengeluh dan terus berdoa, insyallah didengar Allah. Haji tanpa uang sepeserpu. itu contohnya itumi dibilang panggilan Tuhan..”

Karena dia termasuk Hidup untuk bekerja, bukan kerja untuk hidup, maka menyiar sudah jadi obat.

“kalau saya sakit-sakit, berarti lamaka istirahat menyiar,” ujar Dg Nai.

“Mengudara” sejak tahun 1973, Dg Nai, oleh Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Sulsel termasuk penyiar paling tua yang masih aktif di Sulsel, bahkan Indonesia.

Insiatif Tribun mewawancara kakek 9 cucu dari 4 anak itu, dalam rangka Hari Penyiar Radio Sedunia, yang diperingati saban 13 Februari.

Bersama istrinya, Hasnah Dg Bau (68), dia meladeni wawancara Tribun selepas Isya hingga pukul 22,30 wita.

“Ini bukan wawancara, ini acara Baruga malam minggu, ngobrol santai tapi berisi, ” kata Wandi Dg Kulle (46), satu dari 14 penyiar tetap di Radio Gamasi.

Baruga adalah program interaktif tertua di Gamasi FM. Menggunakan bahasa logat Makassar, acara 120 menit itu dipandu Dg Nai dan rekannya, Dg Nojeng, mulai pukul 14.00 hingga 16.00 wita.

Dg Nojeng baru delapan tahunan jadi tandem siar Dg Nai. Fans menjulikinya Dg Nona (Nojeng dan Nai).Selama 3 dekade, sejak awal 1980-an, tandem Syarif Gamajaya adalah Adi Gamajaya Dg Liwang, yang meninggal 2008 lalu.

Memasuki usia ke-72 tahun, Dg Nai tetap rutin mengudara di Radio Gamasi 105,9 FM.

pemandu program ngobrol serius tapi santai di siang jelang sore, Baruga. “Baruga itu polanya sama persis di Panyambungi-na Gandaria AM, dua orang, berdialog, bacakan ucapan pendengar, jawab telponnya, atau bacakan WA dan facebooknya,”

Dengan logat dan bahasa Makassar Program siarannya mengandalkan interaksi pendengar dari seluruh Indonesia.

DATA DIRI

Haji Syarief “Gamajaya” Dg Nai

Lahir: Makassar, 14 Agustus 1948

Penyiar Radio Gandaria AM (1973-1980)

Penyiar Radio Gamasi 150,9 FM (1980-kini)

Orangtua: Dg Karim dan Dg Nabia

Istri: Hasnah Dg Bau

Anak: 4 (Ridwan Syarief (1971), Gaffar Hamzah (1973), Idrus Syarief (1976) dan Fatmawati Syarief (1981); Cucu: 8 orang

Pendidikan: SR 30 Lariambangi Eks Postel Jl Veteran Utara

SMP 7 Stempek Jl Stando

SMA PGRI Kelas sore di SMA 1, Jl Maros, Ujungpandang

DISCLAIMER; artikel ini telah dimuat di Tribun Timur edisi Selasa (19/2/2019) dengan judul; Haji Syarief Dg Nai Penyiar Tertua di Makassar

Hikayat Jenderal Adnas soal Datuk Tergagah Minangkabau

WAKIL Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Brigjen Pol Adnas Abbas MSI, datang khusus ke Tribun Timur, menyampaikan harapan dan ucapan selamat ulang tahun ke-15, Senin (11/2/2019) siang.

Dia membaur dengan sekitar 500-an tetamu yang datang sepanjang pagi hingga malam.

Mantan Kepala Biro Pusat Informasi Data (PID) Divisi Humas Mabes Polri (2017-2018) datang menjelang Salat Azar.

Ia datang bersama Direktur Intelkam dan Keamanan (Dirintelkam) Polda Sulsel Kombes Pol Aditya Warman.

Selain seangkatan di Akademi Kepolisian (Akpol) 1988, wakapolda juga sekampung dengan Kombes Adiyta, di Minangkabau, Sumatera Barat. “Saya Pariaman, beliau Payakumbuh.” kata Aditya kepada Tribun.

Mereka menuliskan pesan dan doa di Dinding Harapan “Send your wishes to Tribun Timur,” di selasar lobi gedung Tribun Timur, Jl Cenderawasih No 430, Kelurahan Sambung Jawa, Mamajang, selatan Makassar.

Kedatangan mereka disambut Pimpinan Umum Tribun Timur Andi Suruji, Pimpinan Perusahaan H Ciptyantoro, dan dua wakil pemimpin redaksi Ronald Ngantung dan Thamzil Thahir.

Usai menuliskan pesan dan membubuhkan tanda tangan dengan spidol merah menyala, mantan Wakapolda Bengkulu ini diajak membaur dengan tetamu lain di lantai 4 Gedung Tribun. Di aula mereka bertemu politisi PKS Sulsel, manajemen Pertamina MOR VII Sulawesi, pimpinan VP Garuda Indonesia, manajemen RS Siloam, dan manejemen sejumlah hotel.

Mulai tanda ucapan berupa rangkaian bunga dari relasi dan pembaca, sekotak kue tar manis berwarna, bingkisan kecil berisi marchandise produk relasi, hingga ucapan selamat, dukungan dan harapan.

Duduk sekitar 10 menit, wakapolda meminta kopi. “Saya ini pernah tugas di Makassar, Daeng, jadi kalau meminta kopi itu pertanda kita sudah menganggap tuan rumah saudara,” 

Sambil menyeruput kopi, dia menikmati kudapan bersambel; utti peppe’; pisang mengkal yang pipihkan lalu digoreng kering.”.

Banyak yang dia cerita. Mulai pengamanan menjelang pemilu, prestasi Polda Sulsel meraih predikat Polda Pelayanan Terbaik ke-3 dari Survei kepuasan dan kepercayaan publik dari MarkPlus.

“Kita terbaik ketiga, setelah (Polda) Bali, dan Sulut.” kata wakapolda.

Survei lembaga yang digagas Hermawan Kertajaya ini melibatkan 29.250 responden acak, selama September-November 2018, Lokasi survei di wilayah hukum Polri; 34 Polda dan 461 Polres/Polresta di Indonesia.

Namun dari sekian kisah itu, yang menarik perhatian dan mengundang takjub adalah kisah yang dia beri judul: Datuk Tergagah Minangkabau.

Alkisah, sekitar tahun 1960-an, di sebuah kampung di Payakumbuh, Sumatera Barat, ada seorang Datuk.

Si Datuk disebut sebagai Datuk tergagah. “Yah, dia memang gagah. Badan kekar, tinggi hampir 180 cm, hidung mancung. Lebih gagah dari saya.”
Warga Payakumbuh pun membalas.

“Bukan itu, Datuk. Dia tergagah karena, dalam satu hari dua kali naik pelaminan. Sebelum Jumat duduk di pelaminan di Payakumbuh, usai Jumat naik pelaminan lagi di kampung seberang, Itulah kenapa Datuk Tergagah, sebab belum pernah ada kabar datuk seperti itu di Minang.”
Brigjen Adnas lalu menyambung, naik pelaminan dua kali itu bukan atas niat si Datuk, melainkan atas permintaan dewan adat. Sekadar diketahui, tak seperti adat lain di Nusantara, di tradisi Minangkabau, si perempuanlah yang “meminang’ lelaki.

Pimpinan Umum Tribun pun bertanya, siapa gerangan si Datuk Tergagah Minangkabau itu?

“Itu adalah Datuk Abbas Zainuddin, almarhum bapak saya itu tahun 1962.”
Dia mengisahkan, ayahnya itu memiliki 4 istri dan 21 anak. “Yang saya lihat, di usiai 75 tahun Bapak saya menikah lagi, dan masih punya anak. Kini adik saya itu, sudah kuliah.” katanya.

Ayah sang Wakapolda termasuk putra tokoh Minangkabau.

Kakeknya adalah Buya Zainuddin Hamidy. Si kakek adalah ulama kelahiran Koto Nan Ampek, Payakumbuh, 8 Februari 1907. “Kakek saya itu mufassir, pendiri pesantren Ma’had Islami Payakumbuh,” ujarnya.

Buya Zainuddin Hamidy juga menulis kitab tafsir. Kitab Tafsir Qur’an ditulis bersama sahabatnya Fakhruddin HS, seorang ulama asal Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Si Buya mendirikan Ma’had Islami setelah pulang menimba ilmu dari tanah suci Mekah tahun 1932.

“Sayang, tak ada yang melanjutkan tradisi itu. Saya punya adik di UIN Syarif Hidayatullah, tapi tak mengurus Ma’had. Akhirnya kini, santrinya terus berkurang.”
Buya Zainuddin adalah ulama hafizh (hafal Qur’an), sekaligus mufassir (ahli tafsir). Sebagaimana Buya Hamka yang menulis tafsir Al-Azhar.

Dalam situs, Palikpost mengutip sosok Buya Zainuddin, Buya Hamka pernah bertutur. “Ustadz Syekh Haji Zainuddin Hamidy adalah seorang yang sederhana. Percakapan dari mulutnya hanya satu-satu, tidak banyak. Bila orang bercakap tentang yang tidak berfaedah, ia hanya diam. Jika orang bertanya, dijawabnya dengan senyum.

Senyum yang mengandung seribu satu arti. Ia seorang yang pendiam,” kata Buya Hamka. (Darul Amri Lobubun/Zil)

DISCLAIMER; artikel ini dimuat di print edition Tribun Timur, edisi Selasa (12/2/2019) dan newsportal; http://makassar.tribunnews.com/2019/02/12/wakapolda-sulsel-dan-kisah-datuk-tergagah-minangkabau?page=all

Raja Reformis Malaysia Itu “Sengaja Nikahi” Model Rusia, biar…

Courtesy; StraitsTimes Desember 2018

LAIKNYA serial Game of Thrones pernikahan Raja Kelantan Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V dengan Ratu Kecantikan Rusia 2015, Oxsana Voevodina, memasuki babak dan drama baru di Tahun Baru 2019 ini.

Sesungguhnya kabar pernikahan ini sudah hampir 2 bulan berlalu, 46 hari tepatnya.

Pun beritanya, baru viral Senin (7/1/2019) kemarin, itu karena mempelai pria, Tengku Muhammad Faris Petra (49) dan pihak kerajaan sudah mengkonfirmasi resmi pengunduran dirinya sebagai raja.

Dan jadilah Tengku Muhammad Faris Petra tetap jadi Raja dengan si ‘permaisuri tak beruntung”; Oxsana Voevodina (25 tahun).

Oxana bukan istri pertama. Tahun 2004, saat masih berstatus Pangeran Kelantan, Muhammad Faris Petra Bin Sultan Ismail Petra, dipaksa menikahi putri Kerajaan Pattani, Kangsadal Pipitpakdee; Tengku Zubaidah binti Tengku Norudin bin Tengku Muda.

Namun, keduanya bercerai pada 2008. Konon kerena Tengku Zubaidah juga punya pacar saat kuliah di Inggris, demikian halnya dengan si Tengku Faris Petra.

Kala itu, Tengku Muhammad Faris Petra, masih menjabat Wakil Raja Kelantan. Faris memenuhi amanat konstitusi, sebagai ‘pelaksana tugas raja”.

Jabatan wakil dia emban, karena ayahnya, Sultan Ismail Petra Ibni Almarhum Sultan Yahya Petra, terserang stroke sebelum meninggal di rumah sakit, Mount Elizabeth Hospital, Singapura, 2010.

Saat dilantik jadi raja dengan gelar Raja Permaisuri Agong Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V .

Sebelum dia mundur dia sudah menjabat Raja selama 751 hari. Dia resmi memakai Mahkota Raja sekaligus kepala pemerintahan Kalantan, Desember 2016.

Gelar ‘Raja Permaisuri Agong’ disematkatkan karena dialah Yang di-Pertuan Agong pertama dalam sejarah monarki Malaysia yang bertakhta tanpa seorang Ratu.

Malaysia adalah satu-satunya negara di dunia yang mempraktikakan rotasi monarki secara berjenjang hingga ke level negara bagian.

Model dan mantan Putri Moscow 2015 ini belakangan jadi muallaf di usia 25 tahun. Nama Muslimah; Rihana Oxana Gorbatenko.

Pernikahan ini digelar di sebuah main hall papan atas di Moskow. Usai menikah, Rihana mengunduh swafotonya dengan sang suami, dari sebuah masjid.

Rihanna sempat jadi permaisuri karena dinikahi Raja, tapi hanya saat bulan madu di Inggris dan Rusia. Tapi gelar permaisurinya, harus dia tanggalkan sebelum menginjakkan kaki di Bandar Bandar Udara Sultan Ismail Petra di Kota Bharu, ibu kota kerajaan Kelantan.

Selain Raja, Faris sekaligus menjabat Kepala Negara Bagian Kelantan, satu dari 9 negara bagian penyokong monarki konstitutional di dunia.

Peletakan mahkota Raja ini sekaligus mencatat sejarah. Dialah raja pertama yang mundur, karena menikahi wanita yang bukan saja dari trah raja dan pemimpin Melayu, melainkan gadis bukan warga negara Malaysia.

Pernikahan dua warga negara berbeda ini pun jadi kontroversi di Tanah Melayu. Seperti negara Monarki Inggris, pusat pemerintahan Commonwealth (dimana Malaysia juga bergabung), Isu kontroversi itu, seputar perubahan konstitusi monarki.

Pertanyaan radikal dan laten yang mengemukan, masih perlukah ada Raja di Malaysia? Atau pertanyaan ‘kasihan keturunan raja Melayu’ mereka dipaksa menikahi wanita yan tidak mereka cintai?

Akun dan situs berita millennial @east2west yang dilansir Says.com dan StraitsTimes mengutip kolase foto dua mempelai raja dan permaisuri tak diakui ini dengan judul; CINTA TAK MEMBEZAKAN BANGSA.

Si raja mengenakan jubah kerajaan dan si permaisuri mengenakan Mahkota Miss Rusia 2015.

Sayang.., di Malaysia, konstitusi monarki Melayu belum mengizinkan pernikahan antar-dua anak berlainan bangsa.

Sejatinnya, dengan prestasi, sikap politik yang pro-refomasi pemerintahan di Malaysia, konstitusi monarki bisa mengakomodir kehadiran “ Permaisuri Tak Beruntung dari Moskow”.

Namun, asumsi dan spekulasi politik ini berubah setelah Menteri Besar Kelantan; Datuk Ahmad Yakob, mengeluarkan pernyataan mengejutkan Minggu (6/1/2019).

Menteri Besar adalah semacam Perdana Menteri, atau kepala administrasi dan hukum pemerintahan di sembilan negara bagian. Kira-kira dia adalah perpanjangan tangan dari Perdana Menteri Mahatir Muhammad di Kelantan.

Pernyataan mengejutkan itu dilansir Malayasia Today, bahwa Raja sengaja menikahi sang model Rusia, biar punya alasan mundur sebagai raja.

Kenapa? Sejak dinobatkan sebagai raja bahkan sejak jadi Pangeran Kelantan 1985, dia sudah tak senang dengan sistem monarki, protokoler kerajaan bersendi Islam itu.

“When Sultan Muhammad V became the Yang di-Pertuan Agong at the time, he also did not show interest,” kata Ahmad yang dilansir BBC dan StraitsTimes.

Kebosanan jadi anak raja memang wajar menghantui. Meski mengecap pendidikan elite di Eropa dan sekolah diplomatik di Oxford University Inggris dan Deutsche Stiftung Internationale Entwicklung di Berlin, Jerman, sang raja memilih jalan hidup sendiri.

Saat usianya masih 10 tahun, 30 Maret 1979, dia sudah dinobatkan jadi Raja Kecil Kelantan, dengan gelar Tengku Mahkota. Ini nama lain dari pangeran,

Sebelum ulang tahun sweet seven teen, sebelum dikirim ke sekolah pesantren ortodox Inggris, Oakham School di Rutland, Inggris, di istana Raja Kalantan,, sebagai anggota parlemen Kerajaan Kelantan.

Dia masih bisa bersandiwara saat dinobatkan resmi sebagai Yang di-Pertuan Agong ke-15 tanggal 13 December 2016, dan hingga menjadi Kepala Negara Bagian Kelantan dan Harapan.

Sandiwara dan drama Game of Throne di Balairong Sri, Istana Balai Besar, Kota Bharu itu, berakhir 6 Januari 2019, beberapa hari setelah bulan madunya berakhir.

Sandiwara itu hanya berusia 2 tahun, 24 hari.

..dan kata Permaisuri pada gelar Raja Permaisuri Agong Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V , tak akab pernah pindah ke Rihana Oxana Gorbatenko.

Kini Faris dan Rihana tetap bergelar Raja dan Ratu, tapi di depannya ada kata mantan. (thamzil thahir)

Terima Kasih (Waktunya) Letting!

بسم الله الرحمن الرحيم

INI perumpamaan perbincangan seletting kami di sebuah kedai kawasan Panakkukang, Makassar. Selasa (8/1/2019).

Temanya serupa tapi tak sama dengan isi kitab suci, Alquran. Antara lain; ada ajaran keimanan, nasihat dan wasiat, perintah atau syariat, kisah nabi lan orang terdahulu, ancaman dan janji, serta sejarah masa depan.

Yang membedakan, tak ada perintah hingga pertemuan itu bubar. lillahitaala tidak ada sama sekali. ya, karena semua memang susah diperintah. kepalanya keras!

Lima tahun kami sama-sama. Memulai karier reporter di satu atap penerbitan bernama Harian FAJAR. Itu 21 tahun lalu.

Seperti merek city car AtoZ, yang tenar di dekade akhir 1990-an, cerita kami dimulai dari Racing Center hingga China, Malaysia, Jakarta sampai Palopo, singgah di Nederland dan mampir di Zwitserland.

akad temu tanpa protokoler. lebih banyak spontanitas.

Seingatku, inilah pertemuan “hampir” lengkap angkatan kami, sejak 2003, 15 tahun lalu.

sekadar tahu, selama 5 tahun kami bersama jadi reporter beda desk.

Waktu 4 jam, jauh dari cukup untuk sekadar bernostalgia; bercerita hal paling jahil, makkompa, dan saling menanyakan kabar keluarga juga rumah tangga. auuuu!

Usai Azar, kami becengkerama. ngopi hingga jeda magrib berjamaah di Masjid Amirullah, Jl Bau Mangga. Oh, Yaa! ada juga sesi santap malam, informil dinner. cie-cieee!

Usai Isya, kami jabat tangan, berpelukan dan saling assalamu alaikum. tak terdengar wassalamu alaikum, sebab kami masih mau assalamualaikum lagi.

ini bukan rapat redaksi. Juga bukan focus group discussion. makanya, tak ada pembicara. apalagi keynote speakers.

Bergantian kami jadi pendengar. Kadang menambahkan detail atau mengkonfirmasi fakta cerita, kadang mengklarifikasi bahkan ada cerita yang dibantah.

“aaah, beginilah jika editor bercerita. harus lengkap 5W 1 H-nya. akurat dan angel harus menarik.”

cerita pun tetap bercerita, tak kunjung jadi berita.

kisah yang 20 tahun lalu, jadi barang tabu, bikin jengkel, justru petang itu, kami tertawai bersama.

tawa di level terbahak dan tawa yang membasahi bola mata. indah dan membekas.

Bak air, cerita, keadaan masa kini, dan rencana mengalir namun belum terkuras.

Kadang deras, namun lebih banyak datar dan tenang.

Inilah reuni pertama seangkatan saya di Harian Fajar. Kami lulus tes akhir 1998.

Uslimin (kini komisioner Pemilu Provinsi Sulsel), Ruslan Ramli PhD (akademisi), Subhan Yusuf (owner sekaligus pemred Rakyatku.com).

Tiga nama diatas pernah jadi editor in chief dan vice editor in chief di Harian FAJAR. Seingatku antara 2007 hingga 2017.

“Sisa saya angkatan kita yang tak pernah jadi pemred, saya terakhir Redpel (redaktur pelaksana,” kata Misbahuddin Hadjini, satu dari 6 angkatan kami yang jadi jurnalis dibawah 13 tahun.

Misbach terakhir aktif sebagai jurnalis 2013. Sebelum gagas online dan majalah bisnis bersama Sultan Makkawaru di 2011, dia masih redaktur pelaksana di Tribun Timur.

saya yang kala itu meniti karier dari cadet reporter, masih editir merangkap koordinator liputan.

Selain kami berempat, hadir juga Sultan Makkawaru dan ka’ Arifuddin Saeni.

Sultan kini jadi pengusaha advertise. Di mataku dia selalu berhasil melalui masa sulit. Untuk sekadar mentraktir di restoran hotel berbintang. “insyallah cukup,”

Dia juga pernah jadi jurnalis di tiga anak usaha suratkabar Fajar; Tabloid INTIM, Berita Kota dan Ujungpandang Ekspres.

Sultan sebantaran karier dengan kami. Di lapangan kami sering meliput bareng. Sultan mengakhiri karier jurnalis sebagai kontributor di LKBN Antara, setelah setengah dekade jadi reporter harian ekonomi terkemuka, di Bisnis Indonesia.

Nah, Arifuddin Saeni adalah paling senior diantara kami. Kalau kami baru akan menapak usia 47-an, Usai Kak Arif, sudah lewat 52 tahun.

tabik senior! hehhhee

Kini, Kak Arif, Kepala Dinas Infokom di Pemerintah Kabupaten Gowa.

Di Fajar, dia terakhir redaktur pelaksana edisi Minggu (1998-2002), dan kini juga masih aktif jadi direktur di salah satu harian dan newsportal di Makassar.

Melalui WhatsApp dan direct Massage, saya sempat mengajak dua kawan se-angkatan; Anita Anggriyani Amir dan M Yusuf Achmad.

Anita kini masih tercatat General Manager di Harian Palu Ekspress, atau setingkat pimred di harian kelompok Fajar Group di Sulawesi Tengah.

Yusuf terakhir kerja sebagai redaktur foto di Tribun Timur, sebelum jadi staf fotografer wirenews; Reuters. Kini jadi freelancer foto journalist. Keliling Nusantara dan assignment di Asia Tenggara.

Keduanya mengaku iri tak bisa hadir. Anita harus merawat anak yang lagi sakit, dan Yusuf lagi OnDuty di Jakarta.

“Lain kali bikin makan-makang dan nostalgia lagi yaa,” kata Ucu dan Anita, terpisah.

Kapan makang-makang dan nostalgia itu, biarlah kami menunggu satu diantara kami mengajak…

Kami berpisah dengan kesadaran, silaturahim dan persaudaraan itu abadi.

terima kasih waktunya letting, dan senior.

Tabaria, 9/1/2019

Daeng dan PaddaengEng

PERNIKAHAN adalah lembaga resmi pendewasaan diri manusia. Resepsinpernikahan di Mandalle, Pangkep, Sabtu (5/1/2019)

MASYARAKAT tradisional Bugis, Makassar, dan atau Mandar, memelihara satu kebiasaan baik; Paddaengang atau PaddaengEng.

Apa arti paddaengang?

Inilah akar kata Daeng.

Pemberiaan julukan setelah nama asli, kepada lelaki atau perempuan, ketika mereka beranjak dewasa atau penamaan sudah menikah.

Bukan orangtua, Paddaengang biasanya disematkan oleh paman, tante, kerabat dekat, orang kepercayaan keluarga, atau dari ibu-ayah mertua setelah menikah.

Toh bukankah, pernikahan adalah lembaga resmi untuk mendewasakan dua manusia beradab dan berperadaban.

Paddaengang ini sekaligus lembaga informil untuk mengenang identitas leluhur atau pendahulu.

Itulah yang menjelaskan mengapa kebiasaan Paddaengang diambil atau merujuk dari nama atau julukan kakek, nenek, buyut, kerabat atau tokoh yang bisa menyerupai. setidaknya, diharapkan mengikuti sifat dan wibawa pendahulunya.

Dalam ilmu tentang manusia dan budaya (antropologi), kebiasaan baik yang melembaga di satu komunitas, didefenisikan sebagai “tradisi”.

Daeng Mappunna misalnya, karena diharapkan jadi orang yang selalu punya rasa memiliki dan dimiliki.

Atau Daeng Gassing agar si pria gigih dan bersemangat dalam bekerja.

Daeng Rannu untuk si perempuan misalnya, agar selalu dirindukan, ri-purennu, bahasa Bugisnya.

Paddaengang atau paddaengeng dalam khazanah Bugis, ini bukan untuk strata atas sosial belaka.

Kalangan rakyat kebanyakan juga memelihara kebiasaan baik ini.

Paddaengang Raja ke-16 Gowa (1653-1669), Sultan Hasanuddin misalnya adalah Daeng Mattawang.

Paddaengang disematkan setelah nama depan, identitas yang diberikan orangtua;

Itulah kenapa nama lengkap almarhum pahlawan nasional itu; I Mallombasi Daeng Mattawang Muhammad Baqir Karaengta Bonto Mangape Sultan Hasanuddin.

Muhammad Baqir adalah nama Muslim atau pemberian Qadi (tokoh agama) setelah i Malobassi Daeng Mattawang bersyahadat dan mengakui Islam sebagai agama resmi Kerajaan Gowa.

Sedangkan Karaengta Bonto Mangape adalah gelar setelah Daeng Mattawang jadi Raja Gowa yang dinobatkan di sebuah kampung “petilasan” bernama; Bonto Mangape di barat Sungai Je’neberang.

Sedangkan Sultan Hasanuddin,

adalah gelar kesultanan yang disematkan sebagai pertanda bahwa Sultana sebagai identifikasi “internasional” dan pelayaran dunia bahwa Gowa adalah Kesultanan (kerajaan bersendi agama).

Hasanuddin secara harfiah berarti (orang baiknya agama). Ini bahasa Arab.

Bukan hanya Makassar, masyarakat Bugis juga mengenal frasa PaddaengEng.

Daeng Serang adalah paddaengang untuk La Tenritatta, Raja ke-15 Bone (1672-1696).

Ayahnya, La Pottobunna dan Ibu kandungnya, We Tenri Suwi menamainya La Tenritatta kala dilahirkan di kampung Lamatta yang kini masuk wilayah administratif Kecamatan Marioriwawo, selatan Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Ayahnya, Latenritatta adalah Arung Tengnga atau Raja yang dinobatkan untuk wilayah tengah Sulawesi (Bone, Soppeng dan Wajo).

Sedangkang La Tenritatta yang dinobatkan di Kampung Pallakka, barat kota Watampone; itulah mengapa Daeng Serang juga lebih dikenal dangan nama Arung Pallakka.

Sedangkan nama To Unru To-ri SompaE adalah gelar penobatannya sebagai Raja Bugis, dan Petta MalampeE Gemme’na (Jagoan berambut Panjang) adalah julukan dari rakyat dan sekawan perjuangannya kala melawan penjajah Belanda.

Seperti halnya, Daeng Mattawang yang bergelar Sultan Hasanuddin, Daeng Serang juga punya gelar kerajaan Islam; Sultan Sa’adduddin.

Istri La Tenritatta, We Siara juga punya Paddaengang; Daeng Talale Karaeng Ballajawa, atau penguasa kampung yang ada rumah Jawa-nya di wilayah Gowa.

Bagi masyarakat Mandar, sapaan Daeng adalah bentuk keakraban sekaligus penghormatan.

Sekitar bulan Juli 2018 lalu, saat manajemen Tribun Timur bertandang resmi ke kediaman Bupati Majene, saya mendapat riwayat baik tentang Daeng di Tana Menre, pusat suku Mandar di barat Sulawesi ini.

Sang Bupati HM Fahmi Massiara، ternyata lebih nyaman disapa Daeng.

Ini dikemukakan Kabag Humas Pemkab Majene, Abdul Watif Muchtar.

“Pak Bupati itu lamgsung merasa akrab jika disapa Daeng, kami-kami anak buahnya juga merasa nyaman dan dekat dengan sapaan itu,” kata Watif.

Dan betul, saat bertemu di rumah jabatan suatimu siang, saya pun menyapanya Daeng.

Pertemuan resmi yang semula diagendakan cuma 30 menit, eh molor hingga 90 menit.

Kami bercerita lepas, tertawa dan janjian bertemu lagi di lain waktu.

Belakangan, sekitar 3 pekan pasca-pertemuan Paddaengang itu, saya dapat kabar dari reporter Tribun Timur di wilayah Sulawesi Barat, jika sang Bupati yang saya sapa Daeng, menginsiasi dan jadi promotor hajat besar dan tradisi baik berjuluk; Haul ke-73 KH Daeng.

Kiai Haji Daeng adalah julukan bagi Kiai Haji Muhammad As’ad Harun Rasyid, dai dan penyebar Islam di Semenanjung Tanah Mandar.

Ternyata sang Bupati adalah Ketua Yayasan KH. Daeng Mandar.

Sang Bupati memang masih kerabat dan keturunan langsung dari mendiang Qadi (pengadil dan pakar hukum) Tanah Mandar di era penjajahan.

Bukan di Majene, haul itu dihelat di Tinambung, kecamatan sekaligus kampung tua di wilayah administratif Polewali Mandar dan berbatasan langsung dengan kabupaten Majene.

acara di Masjid Raya Al Hurriyah Tinambung, itu digelar Sabtu (25/8/2018).

    Jagong, 6 Januari 2019